1. Maksimalkan Depth of Field (DoF)
3193707335.jpgSebuah pendekatan konsep normal dari sebuah landscape photography adalah “tajam dari ujung kaki sampai ke ujung horizon”. Konsep dasar teori “oldies” ini menyatakan bahwa sebuah foto landscape selayaknya sebanyak mungkin semua bagian dari foto adalah focus (tajam). Untuk mendapatkan ketajaman lebar atau dgn kata lain bidang depth of focus (DOF) yang selebar2nya, bisa menggunakan apperture (bukaan diafragma) yang sekecil mungkin (f number besar), misalnya f14, f16, f18, f22, f32, dst.
Tentu saja dgn semakin kecilnya apperture, berarti semakin lamanya exposure.
Karena keterbatasan lensa (yang tidak mampu mencapai f32 dan/atau f64) atau posisi spot di mana kita berdiri tidak mendukung, sebuah pendekatan lain bisa kita gunakan, yaitu teori hyper-focal, untuk mendapatkan bidang fokus yang “optimal” sesuai dgn scene yang kita hadapi. Inti dari jarak hyper-focal adalah meletakan titik focus pada posisi yang tepat untuk mendapatkan bidang focus yg seluas-luasnya yg dimungkinkan sehingga akan tajam dari FG hingga ke BG.
Dengan DoF lebar, akibat penggunaan f/20 dan pengaplikasian hyper-focal distance untuk menentukan focus.
2. Gunakan tripod dan cable release
Dari #1 diatas, akibat dari semakin lebarnya DOF yang berakibat semakin lamanya exposure, dibutuhkan tripod untuk long exposure untuk menjamin agar foto yang dihasilkan tajam. Cable release juga akan sangat membantu. Jika kamera memiliki fasilitas untuk mirror-lock up, maka fasilitas itu bisa juga digunakan untuk menghindari micro-shake akibat dari hentakkan mirror saat awal.
3. Carilah Focal point atau titik focus
3193707339.jpgTitik focus disini bukanlah titik dimana focus dari kamera diletakkan, tapi lebih merupakan titik dimana mata akan pertama kali tertuju (eye-contact) saat melihat foto.
Hampir semua foto yang “baik” mempunyai focal point, atau titik focus atau lebih sering secara salah kaprah disebut POI (Point of Interest). Sebetulnya justru sebuah landscape photography membutuhkan sebuah focal point untuk menarik mata berhenti sesaat sebelum mata mulai mengexplore detail keseluruhan foto. Focal point tidak mesti harus menjadi POI dari sebuah foto.
Sebuah foto yang tanpa focal point, akan membuat mata “wandering” tanpa sempat berhenti, yang mengakibatkan kehilangan ketertarikan pada sebah foto landscape. Sering foto seperti itu disebut datar (bland) saja.
Focal point bisa berupa berupa bangunan (yg kecil atau unik diantara dataran kosong), pohon (yg berdiri sendiri), batu (atau sekumpulan batu), orang atau binatang, atau siluet bentuk yg kontrast dgn BG, dst.
Peletakan dimana focal point juga kadang sangat berpengaruh, disini aturan “oldies” Rule of Third bermain.
Pada contoh foto disamping, focal point adalah org berpayung yang berbaju merah
4. Carilah Foreground (FG)
Foreground bisa menjadi focal point bahkan menjadi POI (Point of Interest) dalam foto landscape anda.
Oleh sebab itu carilah sebuah FG yang kuat. Kadang sebuah FG yang baik menentukan “sukses” tidaknya sebuah foto landscape, terlepas dari bagaimanapun dasyatnya langit saat itu.
Sebuah object atau pattern di FG bisa membuat “sense of scale” dr foto landscape kita.
3193707350.jpg5. Pilih langit atau daratan
Langit yang berawan bergelora, apalagi pada saat sunset atau sunrise, akan membuat foto kita menarik, tapi kita tetap harus memilih apakah kita akan membuat foto kita sebagian besar terdiri dari langit dgn meletakan horizon sedikit dibawah, atau sebagian besar daratan dgn meletakkan horizon sedikit dibagian atas.
Seberapa bagus pun daratan dan langit yang kita temui/hadapi saat memotret, membagi 2 sama bagian antara langit yang dramatis dan daratan/FG yang menarik akan membuat foto landscape menjadi tidak focus, krn kedua bagian tersebut sama bagusnya.
Komposisi dgn menggunakan prisip “oldies” Rule of Third akan sangat membantu. Letakkan garis horizon, di 1/3 bagian atas kalau kita ingin menonjolkan (emphasize) FG nya, atau letakkan horizon di 1/3 bagian bawah, kalau kita ingin menonjolkan langitnya.
Tentu saja hukum “Rule of Third” bisa dilanggar, andai pelanggaran itu justru memperkuat focal point dan bukan sebaliknya. Juga tidak selalu dead center adalah jelek.
6. Carilah Garis/Lines/Pattern
3193707354.jpgSebuah garis atau pattern bisa membuat/menjadi focal yang akan menggiring mata untuk lebih jauh mengexplore foto landscape anda. Kadang leading lines atau pattern tersebut bahkan bisa menjadi POI dari foto tersebut.
Garis-garis, juga bisa memberikan sense of scale atau image depth (kedalaman ruang).
Garis atau pattern bisa berupa apa saja, deretan pohon, bayangan, garis jalan,tangga, dst.
7. Capture moment & movement
Sebuah foto Landcsape tidak berarti kita hanya menangkap (capture) langit, bumi atau gunung, tapi semua elemen alam, baik itu diam atau bergerak seperti air terjun, aliran sungai, pohon2 yang bergerak, pergerakan awan, dst, dapat menjadikan sebuah foto landscape yang menarik.
Sebuah foto landscape tidak harus mengambarkan sebuah pemandangan luas, seluas luasnya, tapi sebuah isolasi detail, baik object yang statis maupun yg secara dinamis bergerak, bisa menjadi sebuah subject dari sebuah foto landscape. Untuk itu lihat Rule #13.
3193707357.jpg8. Bekerja sama dengan alam atau cuaca
Sebuah scene dapat dengan cepat sekali berubah. Oleh sebab itu menentukan kapan saat terbaik untuk memotret adalah sangat penting. Kadang kesempatan mendapat scene terbaik justru bukan pada saat cuaca cerah langit biru, tapi justru pada saat akan hujan atau badai atau setelah hujan atau badai, dimana langit dan awan akan sangat dramatis.
Selain kesabaran dalam “menunggu” moment, kesiapan dalam setting peralatan dan kejelian dalam mencari object dan Focal Point seperti awan, ROL (ray of light), pelangi, kabut, dll.
9. Golden Hours & Blue hours
Pada normal colour landscape photography, saat terbaik biasanya adalah saat sekitar (sebelum) matahari terbenam (sunset) atau setelah matahari terbit (sunrise).
Golden hours adalah saat, biasanya 1-2 jam sebelum matahari terbenam (sunset) hingga 30 menit sebelum matahari terbenam, dan 1-3 jam sejak matahari terbit, dimana “golden light” atau sinar matahari akan membuat warna keemasaan pada object.
Selain itu, saat golden hours juga akan membuat bayangan pada oject, baik itu pohon, atau orang menjadi panjang dan bisa menjadi leading lines spt yg disebutkan pada #6 diatas. 3193707361.jpg
Jika kita memotret pada saat golden hours sudah lewat, atau pada saat matahari sudah terik, biasanya hasilnya akan flat atau harsh lightingnya krn matahari sudah jauh diatas.
Ini berlawananan dgn IR landscape photography yg tidak mengenal golden hours, dimana saat terbaik justru pada saat tengah teriknya matahari.
Blue hours adalah beberapa saat, biasanya hingga 20-30 menit setelah matahari terbenam (sunset), dimana matahari sudah tebenam, tapi langit belum gelap hitam pekat. Pada saat ini langit akan berwarna biru.
Jadi adalah kurang tepat, bahwa pada saat matahari sudah terbenam dan langit mulai gelap (oleh mata kita), kita langsung mengemas/beres2 gear/tripod kita. Justru pada saat ini kita bisa mendapatkan sebuah scene yang bagus dimana langit akan berwarna biru dan tidak hitam pekat. Biasanya dgn long exposure, awan pun (walau kalau kita lihat dgn mata telanjang sdh tidak tampak) masih akan terlihat jelas dan memberikan texture pada langit biru.
10. Cek Horizon
Walaupun sekarang dgn mudah kesalahan ini dapat di koreksi dgn image editor tapi saya masih berkeyakinan “get it right the first time” akan lebih optimal.
Ada 2 hal terakhir saat sebelum kita menekan shutter:
- Apakah horizonya sudah lurus, ada beberapa cara untuk bisa mendapatkan horion lurus saat eksekusi di lapangan, lihat Rule #12
3193707366.jpg
- Apakah horizon sdh di komposisikan dgn baik, lihat #5 untuk pengaplikasian Rule of third. Peraturan/rule kadang dibuat untuk dilangar, tapi jika scene yang akan kita buat tidak cukup kuat (strong) elementnya, biasanya Rule of Third akan sangat membantu membuat komposisi menjadi lebih baik. Memang dgn croping nantinya di software pengolah gambar, kita bisa memperbaikinya. Tapi kalau tidak dgn terpaksa, lebih baik pada saat eksekusi kita sudah menempatkan horizon pada posisi yang sebaiknya.
Contoh foto disamping adalah salah satu dr foto yang saya ambil amannya (save) untuk posisi horizon pada saat eksekusi. Oleh krn itu horizon saya letakkan pas ditengah saja, dgn harapan pada saat itu, saya bisa melakukan cropping nantinya (baik dicrop bagian atas atau pun bagian bawah).
11. Ubah sudut pandang/angle/view anda
Kadang kita terpaku dgn sudut pandang atau angle yang umum kita lakukan, atau mungkin kalau kita mengunjungi suatu tempat yang sering kita lihat fotonya baik itu dimajalah atau website seperti di FN ini, kita menjadi “latah” dan memotret dgn angle yang sama.
Banyak cara untuk mendapatkan fresh point of view. Tidak selamanya “eye-level angle” (posisi normal saat kita berdiri) dalam memotret itu yang terbaik. Coba dgn high-angle (kamera diangkat diatas kepala), waist-level angle, low level, dst, coba berbagai format horizontal dan/atau vertikal.
Atau mencoba mencari spot atau titik berdiri yang berbeda atau tempat yang berbeda, misalnya dari atas pohon (ada memang fotografer senior yang saya kenal yang senang memanjat pohon untuk utk mendapatkan view yg berbeda, dan hasilnya memang berbeda dan unik), atau mencoba berdiri lebih ketepi jurang, atau bahkan tiduran ditanah… tentu saja dgn lebih mengutamakan keselamatan anda sendiri sbg faktor yang lebih utama dan menghitung resiko yang mungkin didapatkan.
Satu hal yang harus dipahami, mencoba dengan sudut pandang yang berbeda tidak selalu otomatis gambar kita akan lebih bagus atau lebih baik, tapi begitu sekali anda mendapatkan yang lebih bagus, dijamin pasti berbeda dgn yang lain.
Dengan sering ber-experimen dgn berbagai angle, lama-kelamaan insting anda akan terlatih saat berada di lapangan untuk mendapatkan tidak hanya angle yang bagus, tapi juga berbeda.
Jangan memotret berulang2 pada satu titik/spot. Cobalah untuk bergeser beberapa meter kesamping atau kedepan, atau bahkan berjalan jauh.
Juga sesekali coba untuk menoleh kebelakang untuk melihat, kadang bisa mendapatkan angle yang menarik dan berbeda.
3-5 exposure/jepretan pada satu titik dan “move on, change spot, change orientation (landscape <-> portrait), look back, change lenses”.
3193707367.jpgTerutama jika anda sering travelling, baik itu ke tempat yang sudah umum atau ke tempat yang jarang di kunjungi fotografer. Ada kalanya kita ada pada suatu spot dimana foto dari lokasi itu sudah merupakan lokasi “sejuta umat” dimana ratusan bahkan ribuan fotografer pernah memotret di spot yg sama dan menghasilkan foto yang mirip atau beda-beda tipis.
Gunakan foto-foto yang sering anda lihat tersebut sebagai referensi, pelajari dan aplikasikan tekniknya dan coba menemukan sesuatu yang berbeda. Make a difference.
Kalau tidak keberatan tiduran sejenak di aspal.
12. Pergunakan peralatan bantu
Penggunaan beberapa peralatan bantu dibawah akan sangat membantu untuk mendapatkan foto landscape yang lebih baik.
- CPL filter
- ND filter
- Graduated ND filter, lihat disitu ttg
Graduated Natural Density (Grad ND): What, How, & When
- Graduated color filter
- Bubble level jika tdk ada grid pada view finder atau gunakan focusing screen dgn grid, sangat membantu untuk mencapai levelnya horizon
3193707371.jpgMemang dgn semakin mudahnya penggunaan software dan semakin canggihnya feature software pengolah gambar untuk memperbaiki/koreksi kesalahan pada saat eksekusi yang bisa mengatasi kesalahan exposure atau kemiringan horizon, penggunaan alat2 tersebut diatas kadang terasa kurang diperlukan, tapi umumnya “get it right the first time” akan bisa menghasilkan foto yang lebih baik dan natural, dibandingkan kalau foto itu harus dipermak habis-habisan nanti hanya agar bisa tampak “baik”.
Jika sudah melakukan segalanya dgn baik dan benar, akan lebih terbuka luas lagi kemungkinannya untuk mengolahnya dgn lebih sempurna nantinya.
13. Lensa yang dipergunakan
Kadang sering ada asumsi bahwa sebuah foto landscape itu harus menggunakan lensa yang selebar mungkin. Tapi dalam membuat sebuah foto landscape, semua lensa dapat dipergunakan, dari lensa super wide (14mm, 16mm, dst), wide (20mm - 35m), medium, (50mm - 85mm), hingga tele/super tele (100mm - 600mm). Semua range lensa bisa dan dapat dipergunakan.
Semua itu tergantung atas kebutuhan dan scene yang kita hadapi. Lensa wide/super wide kadang dibutuhkan jika kita ingin merangkum sebuah scene seluas-luasnya dgn memasukan object yang banyak atau yang berjauhan atau ingin mendapatkan perspektif yg unik.Tapi kadang sebuah tele bisa digunakan untuk mengisolasi scene sehingga lebih un-cluttered, simple dan focus.
Jika tiba pada suatu lokasi/spot, usahakan mencoba dgn semua lensa yang anda bawa. Jangan terpaku pada satu lensa dan memotret berulang-ulang.3193707372.jpg
Kadang diperlukan kejelian, untuk melihat dan mencari suatu bentuk unik atau pattern dari luasnya sebuah scene landscape, sehingga kita dapat meng-isolasi dgn menggunakan lensa yang tepat. Hanya dengan sering memotret dan menghadapi berbagai scene di berbagai kondisi yang dapat mengasah insting anda, baik itu object apa yang harus dicari ataupun lensa apa yg harus dipergunakan.
Penggunaan lensa yg tidak standard seperti fish-eye (baik itu yang diagonal maupun yang full-circular) bisa juga mendapatkan view yang menarik, tentu dgn pengunaan pada saat yang tepat. Tidak selalu penggunaan fish-eye menghasilkan foto yg “bagus” walau memang berbeda.
14. Persiapkan diri dan sesuaikan peralatan
Walau ini tidak berhubungan langsung, tapi kadang sangat menentukan. Sering kali kita membutuhkan research atau tanya dulu kiri kanan, baik itu dgn googling atau bertanya dgn fotografer yang sudah pernah kesana ke satu lokasi sebelumnya, terutama jika mengunjungi tempat yang berbeda jauh iklim maupun cuacanya, krn itu akan menentukan kesiapan kita baik fisik maupun peralatan yang harus dibawa, baik itu peralatan fotografi maupun peralatan penunjang.
Cek ulang dan test semua camera dan lensa yang akan dibawa.
Akan lebih baik kalau semua perlataan yang akan dibawa dalam keadaan bersih, baik itu lensanya, filter2 maupun kamera (sensor) nya.
Membawa semua lensa yang kita punya kadang tidak bijaksana. Mungkin suatu trip hanya membutuhkan satu atau dua lensa saja, atau justru membutuhkan lebih dr itu krn kita sudah mempunyai gambaran atau informasi atau trip tersebut merupakan pengulangan trip yg sudah pernah dilakukan.
Mengetahui alam dan lingkungan dan adat (jika ada penduduknya) dari lokasi pemotretan juga akan sangat membantu.
Bahkan kadang dgn membawa peta (atau mungkin GPS) akan membantu kita menemukan suatu tempat atau spot, khususnya bila kita hunting di daerah ayng tidak ketahui atau lokasi yang kita tidak hapal.
Kesiapan diri dan peralatan akan menentukan apakah photo trip kita berhasil atau tidak.
sumber : http://luthfianahayat.blogspot.com/2011/06/14-tips-memotret-landscape.html
Seorang pemula di bidang fotografi biasanya memulai hasil fotonya dengan objek – objek yang mudah. Salah satunya menggunakan objek seorang model. Di kesempatan ini akan kita bahas sedikit tips untuk memotret seorang model. Kalau kita mendengar kata model, bayangan kita selalu pada sosok wanita yang cantik, muda dan memiliki tubuh yang bagus. Istilah ini sebenarnya salah, karena pengertian model adalah orang yang menjadi objek dalam sebuah foto. Mulai dari bayi, remaja, orang tua sampai kakek nenek. Bahkan seekor binatang pun bisa disebut model.
Untuk memotret model, pertama kita harus mempunyai sebuah kamera. Setiap jenis kamera bisa dipakai dalam pemotretan ini. Sedikit menyinggung tentang alat, untuk pemotretan seorang model idealnya memakai kamera yang lensanya bisa dilepas tukar. Sehingga dalam proses pemotretan kita dapat membuat foto close up dengan menggunakan lensa tele atau lensa zoom. Tapi kalau anda hanya mempunyai jenis kamera pocket atau hanya memanfaatkan fasilitas kamera di handphone anda, itu bukan menjadi masalah.
Untuk memotret seorang model, kita memakai teknik foto close up. Sebuah foto close up adalah foto yang menampilkan bagian tubuh si model mulai kepala sampai bagian pinggang. Selain itu juga adalah istilah ekstrem close up, yang mempunyai arti foto yang menampilkan bagian wajah si model. Bahkan bisa hanya bagian mata saja. Untuk pemotretan ekstrem close up lebih bagus kalau dilakukan dengan jenis kamera yang lensanya bisa dilepas tukar. Dan untuk topik bahasan ini, berfokus pada pemotretan close up dengan menggunakan semua jenis kamera. Karena topik ini lebih mengutamakan bagi anda yang belum paham tentang ilmu fotografi dan ingin belajar tentang teknik fotografi.
Berikut beberapa tips untuk memotret model.
KAMERA
Semua jenis kamera bisa dipakai, baik jenis digital atau konvensional (kamera film) bahkan kamera pada handphone. Apabila kamera anda memiliki fasilitas zoom, gunakan pada posisi zoom atau tele. Sehingga jarak anda dengan model yang anda potret bisa agak jauh. Dan usahakan tidak memotret dengan lensa pada posisi wide angle (lensa lebar) khususnya untuk pemotretan close up. Karena selain jarak anda dengan model lebih dekat, pada hasil foto wajah model akan terlihat lebih lebar karena distorsi. Contoh efek distorsi bisa dilihat kalau anda berkaca di depan kaca yang berbentuk cembung.
WAKTU
Kalau anda memotret dengan memanfaatkan cahaya matahari atau diluar ruangan, waktu yang ideal untuk pemotretan adalah jam 8 – 10 pagi atau jam 3 – 5 sore. Karena pada waktu – waktu tersebut cahaya matahari masih lembut. Sehingga bayangan yang muncul di bagian bawah kelopak mata, hidung dan leher tidak terlalu keras atau lembut.
PENCAHAYAAN
Arahkan cahaya yang datangnya dari matahari di sisi kanan atau kiri model (teori pencahayaan samping). Kalau cahaya matahari masih belum keras anda bisa menempatkan model dengan menghadap sejajar arah matahari. Hal ini selama mata sang model tidak mengecil karena menahan datangnya cahaya matahari. Untuk mengantisipasi bagian wajah yang lebih gelap karena tidak terkena cahaya matahari, anda bisa menggunakan kertas putih atau kain putih yang dibentang menghadap ke arah bagian wajah yang agak gelap. Kertas putih atau kain putih berfungsi sebagai reflektor atau media pantul dari cahaya matahari. Di bidang fotografi teknik ini disebut fill in light (cahaya pengisi)
Penting : Jangan sekali-kali anda memotret model dengan posisi kamera melawan cahaya matahari (cahaya matahari dari belakang model). Karena pengukur cahaya di kamera anda akan membaca cahaya yang datangnya dari matahari bukan dari cahaya yang berada di area wajah model. Dan foto yang dihasilkan wajah model tampak gelap sementara bagian belakang model terang (siluet).
5
KOMPOSISI
Tempatkan model pada tengah-tengah frame kamera. Posisikan kamera sejajar dengan model. Jangan terlau rendah atau terlalu tinggi dari model. Anda bisa mengaturnya lewat jendela penglihat (view winder) di kamera anda. Pakai teori what you see what you get. Jadi apa yang anda lihat di jendela penglihat kamera anda, itu yang akan terekam di foto anda.
Untuk model yang memiliki bentuk wajah lebar atau postur tubuh yang gemuk, atur posisi wajahnya agak sedikit serong ke sisi kiri atau kanan. Jangan menghadap lurus ke arah kamera. Hal ini untuk mengurangi kesan gemuk atau lebar pada wajah model. Sehingga gambar pada foto akan terlihat salah satu sisi pipi si model sedikit ramping karena model menghadap sedikit serong ke sisi kiri atau kanan. Karena biasanya setiap model khususnya wanita ingin terlihat lebih kurus ketika difoto.
KOMUNIKASI
Biasanya orang yang kita jadikan model pada foto akan merasa kaku pada waktu pertama kali pemotretan. Untuk mencairkan suasana dan supaya si model merasa nyaman dan santai ketika kita potret, usahakan untuk mengajak si model ngobrol. Kalo perlu lakukan pemotretan dengan ngobrol-ngobrol santai. Biasanya model akan bergaya dengan santai setelah ½ jam pemotretan berjalan. Maka dari itu kalau anda memotret model dengan menggunakan kamera film, ½ jam pertama anda memotret dengan kamera tanpa film. Tapi anda berlagak seakan-akan tetap motret memakai film. Setelah anda merasa model sudah rileks dan pose-posenya mulai bagus, baru anda isi kamera anda dengan film. Hal ini dilakukan untuk menghindari film yang terbuang sia-sia karena foto yang dihasilkan kurang bagus. Tapi jangan lupa, lakukan hal diatas tanpa sepengetahuan si model. Sementara untuk kamera digital tidak masalah. Karena file-file yang tidak terpakai bisa dihapus.
Penting : Ketika pada waktu pemotretan ada pose atau gaya model yang kurang bagus,jangan sekali-kali anda berkata “jelek” pada model. Anda bisa mengganti dengan kalimat “Tolong pose lain dong, yang itu tadi sudah…”. Secara psikologis kalau anda mengatakan pose yang ditampilkan si model jelek dengan mengatakannya secara langsung pada si model, model akan merasa kurang percaya diri untuk berpose lagi. Bahkan dia bisa kehilangan mood-nya. Intinya apapun pose yang ditampilkan si model anda bilang bagus, meskipun anda kurang suka. Dengan cara itu si model akan merasa pede dan pose-posenya semakin bagus.
LOKASI
Semua tempat di luar ruangan (outdoor) bisa dipakai untuk pemotretan ini. Asal kondisi cahaya di lokasi yang dipakai cukup terang untuk pemotretan. Contoh lokasi : Taman, perkarangan rumah yang banyak pepohonan rindang, sawah dan lain-lain. Usahakan lokasi yang dipakai tidak terlalu ramai. Karena yang kita tonjolkan dalam pemotretan ini adalah modelnya. Jangan sampai latar belakang lebih menarik dari modelnya. Pilih warna-warna yang teduh atau lembut, misal : hijau, kuning. Jangan mempergunakan warna merah. Karena warna merah lebih kuat daripada warna kulit. Selain itu warna kulit akan terpengaruh dan menjadi lebih pucat atau agak kebiru-biruan.
Sebenarnya masih banyak yang dapat disampaikan di dalam topik ini. Untuk sementara ada baiknya anda pelajari dulu tips-tips diatas. Di topik bahasan yang lain akan kami lanjutkan pembahasan mengenai tips-tips memotret model.
Selamat memotret….
SUmber :  http://nodlyraflesia.blogspot.com/2010/03/tips-memotret-model_26.html
M= Full Manual
Pada mode ini pengaturan kamera sepenuhnya manual, baik shutter speed, aperture, ISO, dsb.

A= Aperture Priority
Pada mode ini aperture dapat diatur sesuai dengan kehendak, namun shutter speed akan mengimbangi secara otomatis akan kebutuhan cahaya sesuai dengan besar aperture.

S= Shutter Priority
Pada mode ini shutter speed dapat diatur sesuai dengan kehendak, namun aperture akan mengimbangi secara otomatis kebutuhan cahaya yang sesuai dengan shutter speed.

P= Program
Pada mode ini baik aperture maupun shutter speed akan mengkalkulasi secara otomatis sesuai dengan kebutuhan cahaya, hanya saja pada mode ini tingkat exposure dapat diatur sesuai dengan kehendak.

Auto
Mode auto merupakan mode dimana kamera secara penuh mengatur akan segala kebutuhan pengaturan, dengan kata lain pada mode ini fotografer tinggal "jepret" saja.

Portrait
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan portrait ( foto manusia ), seperti penggunaan tonal warna untuk skin tone, dsb.

Landscape
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto pemandangan ( landscape), seperti tone warna yang lebih vivid atau lain sebagainya.

Macro
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto macro ( jarak dekat sehingga objek tampak lebih besar ), seperti fokus lensa yang lebih disesuaikan.

Moving Object
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan pemotretan objek yang bergerak, sehingga fokus lensa akan lebih cepat bergerak menyesuaikan dengan pergerakan objek.

Night Landscape
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto pemandangan pada malam hari.

Night Portrait
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto portrait malam hari atau cahaya redup.

Sekarang kita akan membahas jenis jenis lensa dan filter lensa.

Lensa

1. Lensa prime (fixed)
lensa fix memiliki pembesaran gambar dan sudut pandang yang tidak dapat dirubah.. contohnya : lensa 14mm f/2,8 dan lensa 50mm f/1,4
2. Lensa zoom (vario)
lensa vario memiliki perbesaran gambar dan sudut pandang yang dapat dirubah tanpa harus mengganti lensa
contohnya :
lensa 18-70mm f/3,5-3,4
lensa 18-135mm f/3,5-5,6
lensa 70-200mm f/2,8
sedangkan lensa vario ini dibagi menjadi 3 menurut panjang fokus lensa, yaitu:
1. lensa sudut lebar (lensa wide)
memiliki focal length lensa antara tidak terbatas sampai 28mm,
(+) mengambil sudut pandang yang lebih luas , ruang tajam lebih luas
(-) Barrel distortion cukup tinggi, sehingga kurang cocok untuk pemotretan model, karena mengakibatkan bagian tubuh model seperti lebih besar.

2. Lensa Normal
memiliki focal length 35-70mm, memiliki sudut pandang +- sama dengan sudut pandang manusia (+- 45 derajat)
(+) tidak ada distorsi
(-) biasa saja (tidak istimewa)
lensa ini cocok untuk dokumentasi / foto bersama

3. Lensa Tele
Lensa ini memiliki focal length antara 80mm- tak terbatas lensa ini merupakan kebalikan dari lensa wide
(+) mendekatkan objek yang jauh
(-) ruang tajam lebih sempit, pinchusion distortion
lensa ini cocok untuk pemotretan model, olah raga, konser, paparazzi

selain lensa2 diatas ,ada juga lensa khusus :
1. Lensa Makro
memiliki jarak fokus yang dekat. memiliki kemampuan perbesaran gambar lebih besar dari pada lensa2 lain. biasanya memiliki perbesaran 1:1 (contoh: benda dg tinggi 1cm akan terekam dengan tinggi 1cm juga pada sensor). Lensa ini dipakai untuk pemotretan benda2 kecil

2. Lensa PC (Perspective Correction)
Memiliki kemampuan untuk mengoreksi perspektif, biasa digunakan untuk pemotretan arsitektur

3. Lensa Fish eye
lensa ini memiliki sudut pandang 180 derajat dan biasanya panjang focal lenghtnya 16mm. lensa ini menghasilkan efek seperti mata ikan memandang (cembung)

Filter Lensa

1. filter wajib
filter UV: untuk menyaring sinar UV yang tidak kasat mata. fungsi lainnya untuk melindungi lensa dari debu, dsb

2. filter tambahan
- filter ND (neutral Density) Gradual, Non-Gradual, Half
Gradual: filter ND yang setengah bagiannya lebih gelap dg gradasi
Non-Gradual : Filter ND yang semua bagiannya lebih gelap
Half: filter ND yang setengah bagiannya gelap tanpa Gradasi.
- filter CPL (Circural Polarizer)
fungsinya:
1.membuat langit biru lebih gelap
2. mampu mengurangi pantulan cahaya berlebih dari permukaan yang memantul seperti kaca, plastik, atau air
3. meningkatkan saturasi (ketajaman warna)
4. menurunkan density

CANON

Canon EOS 600D Kit 18-135IS                                 Rp 10.500.000
Canon EOS 600D Body                                               Rp 7.500.000
Canon EOS 600D Kit 18-55IS                                   Rp 8.300.000
Canon EOS 60D Body Rp 8.200.000
CANON EOS 500D Body                                              Rp 4.900.000
Canon EOS 7D body Rp 12.427.000

NIKON

 

Nikon D3000 kit 18-55VR                                         Rp 5.050.000
Nikon D7000 body Rp 11.175.000
Nikon D3100 kit 18-55 VR                                        Rp 5.695.000
Nikon SLR D5000 Kit 18-55                                     Rp 6.180.000
Nikon D3S Body Rp 42.500.000
Nikon D700 Body Only Rp 20.100.000

OLYMPUS

 

Olympus E-PL1 kit 14-42mm+40-150mm                 Rp 6.400.000
Olympus E-P2 PEN CAMERA KIT 14-42MM               Rp 7.200.000
Olympus PEN E-PL2 Kit with ED 14-42mm                 Rp 6.500.000
Olympus E-PL2 kit 17mm                                                   Rp 6.850.000
Olympus E-PL2 Double kit 14-42mm + 40-150m.    Rp 7.900.000

SONY

 

Sony Alpha DSLR-A580 Kit 18-55mm                             Rp 7.250.000
Sony Alpha DSLR-A290 kit 18-55mm                             Rp 4.290.000
Sony Alpha A390 Double kit 18-55 + 55-200mm       Rp 6.750.000
Sony Alpha NEX3D kit 18-55mm + 16mm                      Rp 6.600.000
SONY SLT A33 Body Only                                                     Rp 6.200.000
SONY SLT A55 Body Only                                                        Rp 7.400.000
Sony Alpha SLT A55 Kit 18-55mm                                     Rp 7.650.000
SONY SLT A55 kit 18-55 + 55-200                                     Rp 9.500.000
SONY ALPHA A850 Body                                                       Rp 16.200.000


Kami Selaku Pengurus Photography SMA BATIK 1 SURAKARTA, Membuka Pendaftaran Anggota Baru bagi yang ingin mendaftarkan dapat langsung Mengisi Belangko Kesanggupan Mengikuti Eskul ini, Bagi Adek-adek kelas yang ingin mengikuti dapat menghubungi, dan ingat, ekskul ini tidak hanya bagi orang yang pintar/pro fotografi saja! melainkan yang ingin belajar juga di perbolehkan ikut .....
Fajar Yogi : http://www.facebook.com/fajar.love.dana
Gadang     : http://www.facebook.com/profile.php?id=100000006500408
DSLR sudah menjadi hobi kegemaran dikalangan remaja dan fotografer di Indonesia. Semuanya pada menunjukkan skill dengan kamera DSLR dan menghasilkan berbagai foto yang begitu bagus. Jadi kalau anda seorang penggemar kamera DSLR, berikut ini merupakan lensa DSLR terpanjang di dunia.

Canon EF 1200 f/5.6 L USM ialah Lensa DSLR terpanjang yang pernah dibuat oleh Canon. Ia mula dibuat pada tahun 1984 untuk perhelatan akbar Olimpiade di Los Angeles, Amerika Serikat. Sejak itu sebanyak 20 lensa DSLR seperti ini beredar di dunia.

Jika anda ingin mempunyai Lensa DSLR ini, anda perlu menanti selama 18 bulan sebelum Lensa DSLR ini sampai ke tangan anda. Anda juga perlu membayar USD 120 000 untuk memiliki Lensa DSLR ini. Tak cukup dengan harga yang mahal atau berat bagi keuangan tetapi beratnya juga berat sekali. Setiap unit Lensa DSLR ini beratnya ialah 16.5 kilogram.

Perbandingan Berat Lensa DSLR dengan Lensa Lainnya




Canon EF 400mm f/2.8 L IS USM Lens 5,37 kg
Canon EF 500mm f/4 L IS USM 3,8 kg
Canon EF 600mm f/4 L IS USM 5,38 kg
Canon EF 800mm f/5.6 L IS USM Lens 4,5 kg
Canon EF 1200mm f/5.6 L USM Lens 16,5 kg


Lensa DSLR Canon EF 1200 f/5.6 L USM


Para Fotografer yang Menggunakan Lensa DSLR Terpanjang di Dunia



Foto Hasil Jepretan dengan Lensa DSLR Canon EF 1200 f/5.6 L USM

Foto Orang:
portrait 800mm
portrait 1200mm


Foto Bangunan:
bangunan 24mm
bangunan 2400mm


Foto Crane:
crane 24mm
crane 2400mm

Video Cara Kerja Lensa DSLR Canon EF 1200 f/5.6 L USM

 

 

 

 

Hasil Dari Naufal



Hasil Dari Ossa





hasil dari andhira



hasil dari fajar





Anda pernah mendengar ini sebelumnya: Digital kamera melakukan semua pekerjaan.Anda hanya menekan tombol dan gambar besar ajaib muncul. Semakin baik kamera, semakin baik foto. Bukankah itu benar? Heck no!
Yang benar adalah bahwa Anda dapat membuat foto yang hebat dengan kamera point-and-menembak konsumen yang sederhana, atau mengambil gambar buruk dengan Nikon paling mahal. Itu bukan kamera yang membuat gambar yang indah, melainkan fotografer. Dengan sedikit pengetahuan dan kemauan untuk membuat penyesuaian di sana-sini, Anda dapat meremas foto waktu besar keluar dari digicam terkecil.
Untuk membantu Anda turun jalan untuk membuat gambar yang besar, di sini adalah sepuluh tips yang akan memungkinkan Anda menembak seperti pro (tanpa maxing kartu kredit Anda pada semua bahwa peralatan mahal).

1. Warm Up Mereka Nada

Pernahkah Anda memperhatikan bahwa gambar Anda kadang-kadang memiliki dingin, lembap merasakan kepada mereka? Jika demikian, Anda tidak sendirian.Pengaturan standar putih saldo untuk kamera digital auto , yang paling bagus untuk snapshot, tetapi cenderung sedikit pada keren "sisi".
Ketika pemotretan potret outdoor dan lanskap cerah, cobalah mengubah pengaturan white balance Anda dari auto ke cloudy . Itu benar, mendung.Mengapa? Penyesuaian ini seperti menaruh pemanasan ringan filter pada kamera Anda. Meningkatkan merah dan kuning menghasilkan lebih kaya, gambar lebih hangat.
Gambar 1a ditembak di luar ruangan dalam lingkungan gunung dengan white balance set ke auto. Gambar 1b menunjukkan hangat berkat nada untuk menggunakan "berawan" pengaturan dan sepasang kacamata hitam Del Mar Costa atas lensa depan. (Canon PowerShot S200, mode Program)
Cool versi.
Gambar 1a.
Versi Hangat
Gambar 1b.
Jika Anda tidak percaya padaku, kemudian lakukan pengujian. Ambil beberapa tembakan luar ruangan dengan white balance pada auto , kemudian mengambil gambar yang sama lagi dengan setting cloudy . Upload gambar ke komputer Anda dan melihat mereka berdampingan. Dugaan saya adalah bahwa Anda akan seperti gambar hangat lebih baik.

2: Sunglasses polarizer

Jika Anda benar-benar ingin menambahkan beberapa pukulan ke gambar Anda, kemudian mendapatkan tangan Anda pada filter polarisasi. polarizer adalah salah satu filter setiap fotografer harus memiliki berguna untuk lanskap dan penembakan di luar ruangan umum. Dengan mengurangi silau dan refleksi yang tidak diinginkan, tembakan terpolarisasi memiliki lebih kaya, warna yang lebih jenuh, terutama di langit.
Apa yang Anda katakan? kamera digital Anda tidak dapat mengakomodasi filter.Jangan putus asa. Saya telah menggunakan trik ini selama bertahun-tahun dengan kamera saya point-and-menembak. Jika Anda memiliki sepasang kacamata hitam kualitas, maka cukup ambil mereka dan menggunakannya sebagai Anda polarising filter. Tempatkan gelas sedekat mungkin dengan lensa kamera mungkin, kemudian memeriksa posisi mereka dalam jendela bidik LCD untuk memastikan Anda tidak memiliki rims di tembakan.
Jika kamera Anda tidak menerima filter, maka anda masih bisa mencapai efek polarizer dengan menempatkan kacamata Anda melalui lensa. Gambar 2a ditembak normal tanpa filtrasi apapun.Gambar 2b ditembak selama sesi yang sama, tetapi dengan kacamata hitam ditempatkan di atas lensa.Perhatikan ditingkatkan dan nada warna langit lebih dalam. (Canon PowerShot S200, mode Program)
Tanpa filter.
Gambar 2a.
Dengan filter.
Gambar 2b.
Untuk hasil terbaik, posisi diri sehingga matahari di kedua kanan atau bahu kiri. Efek polarisasi adalah kuat ketika sumber cahaya berada pada sudut 90 derajat dari subjek.

3. Outdoor Potret Itu Shine

Salah satu fitur tersembunyi yang besar pada kamera digital adalah fill flashatau flash on mode. Dengan mengambil kendali lampu kilat sehingga ia pergi pada saat yang Anda inginkan, bukan ketika kamera dianggap perlu, Anda baru saja mengambil langkah penting menuju menangkap potret luar ruangan besar.
Dalam flash on mode, kamera untuk memaparkan latar belakang pertama, kemudian menambahkan hanya cukup flash untuk menerangi subjek potret anda.Hasilnya adalah gambar terlihat profesional di mana segala sesuatu dalam komposisi terlihat bagus. fotografer Pernikahan telah menggunakan teknik ini selama bertahun-tahun.
Dengan isi flash.
Gambar 3. Dengan menempatkan subjek di bawah naungan terbuka di bawah sebuah pohon dan menyalakan lampu kilat mengisi, baik anak laki-laki dan latar belakang adalah benar terkena. (Canon PowerShot G2, 1/250th pada f-4, flash)
Setelah Anda mendapatkan menggantung penggunaan luar flash, cobalah beberapa variasi pada tema ini dengan posisi subjek sehingga matahari menerangi rambut dari samping atau belakang, sering disebut sebagai pencahayaan pelek. Teknik lain yang baik adalah untuk menempatkan model di tempat teduh di bawah pohon, kemudian gunakan flash untuk menerangi subjek. Model ini membuat nyaman dan sejuk tanpa mata sipit dari matahari yang keras, dan ini sering menghasilkan potret lebih tampak santai.
Ingat, meskipun, bahwa sebagian besar built-in kamera berkedip hanya memiliki jarak 10 kaki (atau bahkan kurang!), Jadi pastikan Anda tidak berdiri terlalu jauh saat menggunakan flash isi di luar ruangan.

4. Mode Makro Madness

Ingat sebagai seorang anak menemukan dunia baru di bawah kaki Anda saat bermain di rumput? Ketika Anda menjadi sangat dekat dengan tanah, Anda bisa melihat seluruh komunitas makhluk bahwa Anda tidak pernah tahu ada.
Hari-hari ini, Anda mungkin tidak ingin berbaring di perut Anda di halaman belakang, tetapi jika Anda mengaktifkan close up modus pada kamera digital Anda dan mulai untuk menjelajahi dunia Anda secara detail lebih baik, Anda akan dihargai dengan gambar baru segar tidak seperti apa pun yang Anda 'telah pernah menembak sebelumnya.
Bahkan objek yang paling sederhana mengambil daya tarik baru dalam macro mode .Dan bagian yang terbaik adalah bahwa hal itu sangat mudah dilakukan dengan kamera digital.
Mode close up.
Gambar 4. Alam terlihat jauh berbeda, dan kadang-kadang lebih menarik, dari jarak dekat. (Canon PowerShot G2, paparan Programmed, spot meter, Close Up mode, flash off)
Hanya mencari close up atau macro mode ikon, yang biasanya merupakan simbol bunga, hidupkan, dan mendapatkan dekat dengan obyek sebagai kamera Anda akan memungkinkan. Setelah Anda menemukan sesuatu yang Anda sukai, tahan tombol rana ditekan setengah jalan untuk memungkinkan kamera untuk fokus. Bila lampu konfirmasi memberi Anda pergi ke depan, tekan tombol rana ke bawah sisa cara untuk merekam gambar.
Perlu diingat bahwa Anda sudah sangat dangkal kedalaman lapangan saat menggunakan close up mode, sehingga fokus pada bagian dari subjek yang paling penting bagi Anda, dan membiarkan sisanya gambar pergi lembut.

5. Horizon Line Mayhem

Untuk beberapa alasan yang misterius, kebanyakan makhluk manusia memiliki waktu sulit memegang tingkat kamera saat menggunakan monitor LCD pada kamera digital mereka. Hasilnya bisa matahari terbenam tolol, lanskap miring, dan menara miring.
Sebagian dari masalah adalah bahwa optik kamera Anda memperkenalkan distorsi ketika rendering panorama yang luas mengenai kecil, layar dua inci. Pohon-pohon bisa berdiri lurus bila Anda melihat mereka dengan mata telanjang, tetapi mereka tampaknya menundukkan batin pada monitor kamera Anda. Tidak heran fotografer menjadi bingung ketika berbaris tembakan mereka.
Menemukan garis horisontal.
Gambar 5. Bagaimana Anda persegi Facebook foto dalam jendela bidik LCD sehingga muncul "tingkat" ketika Anda melihat nanti pada komputer? Carilah garis horizontal alam dan menggunakannya sebagai panduan. Kadang-kadang Anda dapat menggunakan baris mana langit bertemu laut, kali lain Anda dapat menggunakan strip tanah sebagai tingkat Anda. Dalam hal ini saya menggunakan garis pantai danau gunung untuk membantu saya menyelaraskan komposisi ini.(Canon PowerShot G2, Aperture paparan Prioritas diatur ke f-8, polarizer filter)
Apa yang dapat Anda lakukan? Nah, tak ada peluru perak untuk menyelesaikan semua masalah garis cakrawala Anda, tetapi Anda dapat melakukan perbaikan dengan menjaga beberapa hal dalam pikiran.
Pertama-tama, diketahui bahwa sangat penting untuk menangkap gambar setingkat mungkin. Jika Anda mengalami kesulitan membingkai adegan sesuai dengan keinginan Anda, kemudian mengambil foto Anda terbaik pada gambar lurus, ubah posisi kamera sedikit, mengambil gambar lainnya, dan kemudian mungkin satu lagi dengan penyesuaian lain. Kemungkinan sangat baik bahwa salah satu gambar yang akan "merasa benar" ketika Anda meninjau mereka di komputer. Cukup membuang yang lain setelah Anda mencari gambar yang sempurna selaras.
Jika Anda berlatih tingkat pembingkaian tembakan Anda, dari waktu ke waktu proses akan menjadi lebih alami, dan persentase Anda garis horizon level akan meningkat secara dramatis.

6: Massive Kartu Media

Bila Anda mencari tahu anggaran untuk kamera digital Anda berikutnya, pastikan Anda faktor pembelian kartu memori tambahan. Mengapa? Karena kartu disertakan dengan mainan heran baru berteknologi tinggi sekitar sebagai memuaskan sebagai tas penerbangan dari kacang tanah ketika Anda mati kelaparan.
Jika Anda memiliki kamera 3 megapiksel, mendapatkan setidaknya kartu 256MB, 512MBs untuk 4 model megapiksel, dan 1GB untuk selama 6 megapixel dan ke atas.
Dengan cara itu Anda tidak akan kehilangan tembakan lain karena kartu memori sudah penuh.

7: rez Tinggi Semua Jalan

Salah satu alasan yang paling penting untuk kemasan kartu memori besar adalah untuk memungkinkan Anda untuk mengambil gambar pada kamera resolusi tertinggi. Jika Anda membayar harga premium untuk sebuah digicam 6 megapixel, kemudian mendapatkan nilai uang Anda dan menembak pada 6 megapixels. Dan sementara Anda berada di itu, menembak kompresi kualitas tertinggi pengaturan kamera Anda juga.
Mengapa tidak memeras lebih banyak gambar pada kartu memori Anda dengan menembak resolusi yang lebih rendah dan rendah pengaturan kompresi berkualitas? Karena Anda tidak pernah tahu kapan Anda akan menangkap gambar besar berikutnya dari abad ke-21. Dan jika Anda mengambil gambar yang indah di resolusi rendah 480 x 640, yang berarti Anda hanya dapat membuat cetak seukuran kartu kredit, tidak persis dimensi yang tepat untuk menggantung di museum.

Intinya adalah, jika Anda memiliki cukup memori (dan Anda tahu Anda harus), maka tidak ada alasan untuk menembak pada resolusi yang lebih rendah dan risiko kehilangan kesempatan untuk memamerkan pekerjaan Anda di jalan besar.Di sisi lain, jika Anda rekam gambar pada 2272 x 1704 (4 megapixel) atau lebih besar, maka Anda dapat membuat 8 indah - x-kualitas cetak foto 10 inci yang cocok untuk framing atau bahkan untuk gracing sampul majalah Time.
 Dan hanya jika anda bisa mendapatkan sebagai dekat dengan tindakan yang Anda telah suka, setelah mereka piksel tambahan memungkinkan Anda untuk memotong gambar Anda dan masih memiliki resolusi yang cukup untuk membuat ukuran yang layak cetak.

8: Tripod lumayan

Saya pernah mendengar seseorang berkata, "Dia harus menjadi seorang fotografer sejati karena dia menggunakan tripod." Nah, apakah anda menggunakan tripod tidak ada hubungannya dengan Anda menjadi seorang fotografer sejati.Untuk jenis tertentu tembakan sekalipun, ini mendukung tiga berkaki bisa sangat berguna.
Masalahnya adalah tripod yang sakit di pantat untuk membawa sekitar. Mereka adalah besar, unwieldily, dan kadang-kadang benar-benar frustasi. Apakah frase "jahat diperlukan" datang ke pikiran?
Untuk penembak digital ada kabar baik: II UltraPod oleh Pedco. Ini, kompak serbaguna, perangkat cerdas pas di saku belakang Anda dan memungkinkan Anda untuk kamera mantap Anda dalam berbagai situasi. Anda dapat membuka kaki dan meletakkannya di permukaan yang datar yang wajar seperti meja atau batu di antah berantah. Tapi Anda juga dapat menggunakan nya tali Velcro dan melampirkan kamera Anda ke tiang tersedia atau dahan pohon.
II UltraPod.
Gambar 6. II UltraPod adalah ringan dan terjangkau (kurang dari $ 20 biasanya).
Anda mungkin tidak perlu tripod yang sering, tetapi ketika Anda melakukannya, tidak ada yang lain akan bekerja. Menyelamatkan diri rasa sakit dan uang dari lug berat besar polong, dan memeriksa UltraPod langsing. Ya, maka Anda juga bisa menjadi fotografer nyata.

9: Self Timer Fun

Sekarang bahwa Anda memiliki UltraPod Anda di tangan, Anda dapat menjelajahi fitur lain digunakan di bawah ditemukan di hampir semua kamera digital: yang self timer . Penundaan ini fungsi penembakan dari rana (setelah tombol telah mendorong) hingga 10 detik, memperbaiki salah satu masalah usia tua dalam fotografi: fotografer hilang.
Hei, hanya karena Anda telah mengenakan sebagai sejarawan kreatif di klan anda, itu tidak berarti bahwa wajah Anda bersinar harus absen dari setiap frame akuntansi bergambar keluarga. Anda bisa tangan digicam terpercaya Anda ke orang asing, sementara Anda melompat di tembakan, tapi kemudian Anda mengambil kesempatan dari mereka menjatuhkan, atau bahkan lebih buruk lagi, melarikan diri dengan kamera Anda.
Sebaliknya, Anda melampirkan UltraPod, berbaris tembakan, mengaktifkan self timer , dan mendapatkan dalam gambar. Ini biasanya merupakan saat yang tepat untuk mengaktifkan lampu kilat untuk memastikan bahkan paparan semua orang dalam komposisi (tapi ingat bahwa 10 membatasi jangkauan flash kaki!). Juga, pastikan sensor fokus ditujukan untuk orang dalam kelompok dan bukan latar belakang yang jauh, atau Anda akan mendapatkan pohon-pohon yang sangat tajam dan anggota keluarga fuzzy.
Self timer yang baik untuk situasi yang lain, juga. Apakah Anda tertarik membuat eksposur panjang mengemudi mobil di atas Golden Gate Bridge di senja? Sekali lagi, aman kamera pada tripod, kemudian perjalanan rana menggunakan self timer.Dengan demikian, Anda mencegah gemuruh disengaja kamera saat Anda memulai eksposur.

10. Slow Motion Air

Saya berasal dari keluarga di mana itu darn sulit untuk terkesan mereka dengan gambar-gambar berseni saya. Salah satu dari sedikit pengecualian terjadi baru-baru ini saat kakak saya berkomentar bahwa serangkaian tembakan air yang saya telah menunjukkan dia tampak seperti lukisan. Itu cukup dekat untuk sebuah pujian bagi saya.
Apa dia menanggapi adalah salah satu jenis foto favorit saya: air gerakan lambat.Gambar-gambar ini dibuat dengan menemukan sebuah komposisi yang bagus dengan air, kemudian memaksa rana kamera untuk tetap terbuka untuk satu atau dua detik, menciptakan efek, lembut mengalir dari air sambil semua elemen lain dalam adegan tetap bagus dan tajam.
Anda dapat membuat efek painterly dengan memindahkan air dengan me-mount kamera pada tripod dan memperlambat rana untuk eksposur dari 1 detik atau lebih. (Canon PowerShot G2, prioritas Aperture set ke f-8, kecepatan rana 1 detik, polarizer filter, UltraPod II tripod)
Dengan kecepatan rana melambat.
Gambar 7a.
Dengan kecepatan rana melambat.
Gambar 7b.
Anda akan memerlukan tripod agar kamera stabil selama eksposur panjang, dan Anda mungkin harus menggunakan timer otomatis untuk perjalanan rana. Jika kamera Anda memiliki pengaturan prioritas aperture, menggunakannya dan mengatur aperture untuk f-8, f-11, atau f-16 jika memungkinkan. Ini akan memberi Anda lebih mendalam lapangan dan menyebabkan rana untuk memperlambat.
Idealnya, Anda akan ingin eksposur dari satu detik atau lebih lama untuk menciptakan efek yang mengalir dari air. Itu berarti Anda mungkin akan ingin mencari sungai dan air terjun yang di bawah naungan, bukan sinar matahari cerah.
Trik lainnya adalah dengan menggunakan kacamata hitam Anda melalui lensa untuk menggelapkan adegan dan menciptakan eksposur bahkan lebih lama. Plus Anda mendapatkan bonus tambahan dari menghilangkan refleksi mengganggu dari komposisi Anda.

Final Thoughts

Sebagian besar kamera digital, bahkan konsumen point-and-shoot model, memiliki sejumlah besar fungsionalitas yang dibangun ke mereka. Dengan menerapkan sedikit kecerdikan dan kreativitas, Anda dapat mengambil gambar yang akan membuat penonton bertanya, "Jadi apa jenis kamera yang Anda miliki?"
Anda dapat memberitahu mereka jawabannya, tapi di dalam, Anda akan tahu ini bukan kamera bertanggung jawab atas foto-foto besar. Ini fotografer.